Sabtu, 18 Juli 2009

curhat

aahhh ...

skolah sudah mulai tgl 13 juli kemarin ...

menynangkan banget ... gue ga paham knp pada ga suka ..

oh ya ... ga tau deh pas hari selasa ato rabunya gitu gue jadi ngerasa beda sama satu cwo .. kya gue naksir dia d ... tapi ga suka2 banget ... gue tuh tiap ke skul tuh kayanya ga ada dia hampa banget .... :D :D

jadi gimana ya ??? iihhh gue kayanya ga sabar bsk selasa .. kpingin masuk lagi .. :)

kangen dia soalnya wkwkwkwkwk :D

Selasa, 07 Juli 2009

heii all !

hahaha lama tak berjumpa ya :D

hehehe lama amat nih ga pos blog lagi .. hehehe abis ga kpikiran buka blog ... hahaha gue post blog ini juga diingetin tmn jeahaha :D

hufff masih di sekitar dunia sulap :D

gue lg pelajarin di sekitar blog2 orangg :D

hahaha ternyata ga segampang itu .. gue aja ampe sakit gara2 ol terus huahahaa :D



ah cape ah ntr aja lanjutin lagi ya bubyeee :P

Senin, 15 Juni 2009

Rain telah melompat kembali ke danau. Ia berusaha membantu Joe. Rain menarik baju Joe sekuat tenaga. Joe mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk mengeluarkan Abu. Ia menghentak keras-keras, dan akhirnya Abu keluar dari besi itu. Abu sudah pingsan. Ketika Abu keluar, bus itu langsung tenggelam, bersama si supir, Darko, Rom dan Sam.

Joe dan Rain langsung membawa Abu ke tepi. Anak-anak itu masih menangis. Rain kemudian pergi mencari bala bantuan. Joe merasa lelah sekali.
“Abu, jangan tinggalkan aku.” Bisiknya. Kemudian kepalanya membentur tanah.

Joe membuka matanya. Segalanya menjadi kabur. Joe menyipitkan matanya. Ia meraba-raba. Kemudian memakai kaca matanya kembali. Ternyata dia sudah ada di rumah sakit, rumah sakit sewaktu ia diobati lukanya beberapa hari yang lalu.
Joe keluar dari kamarnya. Rain langsung menyambutnya. “Joe! Kau tidak apa-apa!” kata Rain lega. Joe mengangguk. “Mana Abu? Bagaimana dia? Aku ingin bertemu dengannya.” Kata Joe pelan.
“Mari. Ia tidak begitu baik. Tapi Abu hebat. Anak-anak selamat semua berkatnya.” Jawab Rain, sambil berjalan mengantar Joe ke kamar Abu.
Tampak Abu memejamkan matanya. Di hidungnya bertengger selang pernafasan. Joe menghampirinya. Rain kemudian meninggalkan mereka berdua.

Abu membuka matanya perlahan-lahan. “Anak-anak selamat semua?” bisiknya. Joe mengangguk. “Tidak usah khawatir.” Jawab Joe.
Abu tersenyum lemah. “Ternyata aku bisa menjadi pahlawan juga. Aku bisa berguna juga.” Kata Abu pelan.
“Tidak ada yang suka orang pamer,” kata Joe, dengan suara sengau. Abu tersenyum lemah.
“Aku akan menemanimu disini sampai kau sembuh.” Kata Joe. Abu tersenyum. Dua hari mereka lewati.... Abu sampai merasa bosan di rumah sakit itu.

“Supaya tidak bosan, bagaimana jika kita melakukan permainan?” kata Joe, merasa kasihan dengan sahabatnya itu.
“Permainan apa?” tanya Abu tertarik. Joe berpikir sejenak. Kemudian ia melihat suster yang lewat.
“Bagaimana jika kau pura-pura mati, kemudian aku pura-pura menangis dan memanggil Dokter, kemudian kau mengagetkan mereka?” kata Joe sambil nyengir jahil
Abu tertawa lemah. “Sepertinya menyenangkan. Baiklah.”
“Tunggu disini.” Kata Joe. Kemudian ia keluar dari kamar Abu.
“Dokter, dokter! Tolong! Teman saya tidak bernafas sama sekali, tolonglah, Dokter!” kata Joe, berpura-pura terisak sambil memohon kepada Dokter yang lewat. Dokter itu tampak panik, kemudian masuk ke kamar Abu. Joe mengedipkan matanya. Abu pura-pura memejamkan matanya.
Ketika si Dokter mencoba memeriksa detak jantung Abu, Abu langsung membuka matanya dan berteriak ,”KENA!” Si Dokter tentu saja terkaget-kaget. Ia langsung keluar dan marah-marah, menggerutu mereka seperti anak kecil.”Jantungku.. Ya Tuhan..” kata Dokter itu lagi dan pergi.
Joe dan Abu terkekeh. Joe tertawa terbahak-bahak. “Siap untuk mangsa berikutnya?” tanya Joe. Abu mengangguk. Joe kembali berpura-pura tersedu-sedu. Mereka kembali berhasil mengagetkan dokter lain. “Tidak lucu!” seru Dokter itu.
“Sekarang, mangsa yang terakhir, ayo kita kerjai Dr. Limbad.” Kekeh Joe. Abu mengangguk. Joe kembali ke luar kamar, mencari Dr. Limbad.
“Dr Lim, tolonglah, temanku tidak bernafas,” kata Joe sembari berpura-pura terisak. Dr. Limbad tampak kaget. Ia bergegas menghampiri Abu. Abu kembali memejamkan matanya. Joe kemudian mengintip dari balik pintu.
Dr. Limbad memeriksa detak jantung Abu. Joe bersusah payah menahan tawa. Tapi Abu tidak bergerak sama sekali. “Ayo, Abu,” bisiknya. Namun Abu tetap tidak membuka matanya.
Dr Limbad menghampirinya. Dr. Limbad menepuk pundak Joe. “Joe, aku turut berduka,” gumamnya. Joe menatap Abu yang kelihatan masih tertidur dengan tidak percaya. Ia memaksakan untuk tertawa. “Dia Cuma bercanda,” kata Joe sambil memaksakan tawa. Kemudian ia menghampiri Abu. “Ayo bangun.. Abu, kau bercanda kan?” kata Joe lagi dengan tawa yang sangat dipaksakan. Dr. Limbad hanya memandanginya dengan sedih. Joe mengguncang badan Abu. Abu tetap tidak bergeming. “Kau janji kita akan selalu bersama, Abu! Ayo bangun!” seru Joe sambil mengguncang badan Abu.
Dr Limbad berusaha menenangkannya. “Biarkan dia istirahat, Joe..” bisiknya. Perlahan-lahan air mata Joe menetes."Lihat, dia tersenyum. Dia meninggal dalam kedamaian." bisik Dr Limbad lagi.
"Tapi tadi ia masih bersenda gurau denganku!" kata Joe sengau. Dr Limbad mengangguk. "Ya tapi benturan ketika kalian kecelakaan itu sangat keras." bisiknya.
Rain masuk ke dalam kamar Abu. Melihat Joe yang kelihatan sangat terguncang dan Dr Limbad yang berusaha menenangkan Joe, Rain langsung berkesimpulan: Abu sudah tiada.
Rain perlahan-lahan menghampiri Dr. Limbad. “Dr. Lim? Bolehkah aku meminjam telepon?” tanyanya. Limbad mengangguk. Rain kemudian ikut berusaha menenangkan Joe, dan meminta nomor telpon orangtua Abu. Joe yang masih terguncang kemudian memberikan nomor telpon orangtua Abu. Rain kemudian menelepon orangtua Abu. Bagai disambar petir orangtua Abu menerima kabar itu...

Dua hari kemudian, dua hari namun terasa seperti 5 menit bagi Joe, akhirnya Abu akan dimakamkan di Jakarta. Ia masih tidak percaya bahwa sahabat terbaiknya di dunia sudah tiada. Semuanya terasa berlalu begitu cepat dalam beberapa hari ini.
Joe berusaha tampak tegar meski hatinya sakit sekali. Ia berjalan ke ruang depan rumah duka dengan langkah lesu, kemudian ia duduk. Ia menarik nafas dalam-dalam, berusaha agar air matanya tidak keluar.

“Joe?” panggil seseorang. Joe menoleh. Pak Andre, Ayah Abu. “Bolehkah aku duduk?” tanya Pak Andre lembut. Joe mengangguk. Ia berusaha keras tidak menatap wajah Pak Andre.

“Ini semua salah saya.” Kata Joe. Pak Andre langsung mengangkat tangannya. “Tidak. Jangan berbicara seperti itu.” Kata Pak Andre tegas. “Aku dan istriku tidak menyalahkanmu, ini semua sudah kehendak Tuhan.” Kata Pak Andre lagi.
Joe mulai tidak bisa mengontrol emosinya. “T-tapi jika s-saya tidak membawanya ke sini, ia akan masih bersama anda!” kata Joe sambil menggertakkan giginya. Suaranya bergetar sekarang. “Joe, tenang Nak! Tidak baik menyalahkan dirimu!” seru Pak Andre lagi.

Secara tak sadar Joe menubrukkan kepalanya ke dada Pak Andre. Pak Andre kemudian mengelus rambut Joe dan memeluknya layaknya putranya sendiri. “I-ia selalu berkata ingin sekali tampil di hadapan jutaan orang! D-dan saya sudah membuat mimpinya kandas!” kata Joe tergagap. “M-maafkan aku! M-maafkan aku!” seru Joe lagi.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan! Kau akan melanjutkan mimpi Abu! Kau akan tetap mengikuti kompetisi itu, dan jadilah juara!” kata Pak Andre tegas. “Hapus air matamu Nak.” Joe melepaskan diri dari pelukan Pak Andre. Ia merasa malu karena tidak bisa mengontrol emosinya. “Bolehkah aku melihat Abu untuk terakhir kali?” tanya Joe masih dengan suara sengau. “Bicara apa kau, Nak? Tentu saja boleh!” kata Pak Andre lembut.

Joe kemudian masuk ke dalam rumah duka itu. Jenazah Abu masih berbaring disana, tangannya mendekap, matanya tertutup dan tersenyum. Wajahnya terlihat damai sekali. Ia bisa disangka sedang tidur. Kemudian tiba-tiba Joe melihat ada yang janggal dengan Abu. Ternyata Abu hanya memakai sebelah sepatu. Joe kemudian melepas sepatunya dan memakaikannya ke Abu. Tanpa disadarinya ia tersenyum.

Pemakaman pun berlangsung dengan singkat... Joe merasa lega, entah mengapa, meskipun hatinya terasa bagaikan diiris sembilu. Rain menepuk punggung Joe, berusaha menghiburnya. Joe hanya bisa tersenyum kecil kepadanya. “Aku harus pulang ke rumah.. memulai hidup baru.. Bisakah kau memberikan nomor telpon mu? Supaya sekali-sekali kita bisa berkomunikasi, “ kata Rain. Joe tersenyum. Ia kemudian memberikan nomor telponnya. Setelah selesai pemakaman, Rain pergi. Joe kemudian berpikir setelah Rain pergi.Pak Andre benar, pikirnya. Ia harus melanjutkan mimpi Abu.

Joe akhirnya mengikuti audisi The Master. Dari sejak audisi, Joe sudah membuat para juri terpukau.. Perjalanan Joe cukup panjang di The Master tersebut. Sampai akhirnya malam final tiba, dan Joe dinobatkan menjadi juara. Saat dinobatkan menjadi juara, Joe melihat kursi yang kosong, dalam hatinya ia berpikir, kursi kosong itu seharusnya diduduki oleh Abu.

“Untuk siapa kemenangan ini kau persembahkan?” tanya pembawa acara The Master tersebut.

Joe menghela nafas. “Untuk sahabat saya, Abu Marlo, yang tak lekang oleh waktu. Seharusnya ia juga berdiri disini bersama saya, tapi kini ia telah tiada. Seharusnya kami bersama-sama di kompetisi The Master ini, tapi ia pergi mendahului saya. Untuk itu, saya persembahkan kemenangan saya ini untuk mengenang persahabatan kami yang tak akan lekang oleh waktu,” kata Joe.

Seluruh hadirin bertepuk tangan sambil berdiri. Sebagian bahkan ada yang mencucurkan air mata. Joe menatap ke atas... Abu pasti sedang mengawasinya dari surga sana... Dirinya tidak akan lekang oleh waktu.. Dan saat itu, Joe baru menyadari bahwa Abu tidak pernah benar-benar pergi, melainkan akan selalu hidup di dalam hatinya.
Joe menepuk dahinya. “Ya ampun! Aku lupa... tentu saja,” jawab Joe.
Abu tertawa. “Audisinya tinggal 3 hari lagi dan kau lupa?” kata Abu sambil mengacak rambut Joe dengan gemas. Joe balas tertawa.
“Berarti aku akan pisah dengan kalian?” potong Rain sedih. Joe dan Abu hampir lupa bahwa Rain ada di ruangan itu juga.
Joe dan Abu bertukar pandang. “Er, Rain, tujuan kita ke Jakarta ini memang karena ingin mengikuti audisi The Master,” Joe menjelaskan dengan lembut.
Rain tampak kecewa sekali. Abu iba melihatnya. “Hmm... Bagaimana jika kau ikut kita, ke audisi The Master?” usulnya.
Mata Rain berbinar kegirangan. “Sungguh? Tentu, tentu! Aku senang sekali!” Rain mendadak seperti lupa bahwa ibunya baru saja meninggal.
“Kita akan berangkat besok, kurasa uang ini juga cukup untuk menginap 2 malam,” kata Joe. Abu dan Rain mengangguk menyetujuinya.
“Audisinya di Mal Emporium ya? Dari sini Cuma naik bus, kok,” kata Rain.
“Baiklah... hari yang melelahkan, saatnya tidur!” ujar Abu.

Keesokan harinya, dengan hati yang riang, 3 orang sahabat itu bersiap-siap untuk berangkat. Mereka kemudian jalan sedikit ke halte bus. Di halte bus mereka bercakap-cakap sambil menunggu bus yang akan datang.
Setelah sekitar satu jam menunggu, bus yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Joe, Abu, dan Rain masuk ke dalam bus itu, mereka kemudian mengambil tempat duduk bersebelahan.

Bus perlahan-lahan melaju. Joe menoleh ke jendela, kemudian ke Abu. “Kau tahu, akhirnya kita bisa menggapai mimpi kita,” kata Joe kepada Abu. Abu mengangguk, kemudian terbatuk.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Joe cemas. “Aku baik-baik saja kok.” Jawab Abu.
Bus terus melaju perlahan... sampai...
“Serahkan uangmu, supir.” Kata 2 orang yang sedari tadi duduk di sebelah supir. Salah satu menodongkan pistol di kepala si supir. Supir bus itu terlihat gugup. Penumpang yang ada di bus langsung terdiam. “Tetap jalan.” Kata salah satu dari ketiga orang itu.

Rain menarik lengan jaket Joe. “Trio Darko, Rom dan Sam,” bisiknya. Joe memperhatikan keduanya. Rom, Sam, Darko.
“Sial! Kenapa sih mereka selalu ada dimana-mana?” keluh Joe.
Abu dan Rain mengangkat bahu. “Nasib kita sial....... selalu saja bertemu dengan para cowok cantik itu,” kata Abu sembari menyipitkan matanya. Joe terbatuk untuk menyamarkan tawanya. “Jangan melakukan gerakan apapun.” Kata Joe lagi. Mereka bertiga kemudian diam.

Rom dan Sam masih menodong supir bus yang malang itu. Karena ditodong, akibatnya supir itu tidak konsentrasi dalam menyetir. Seekor anjing tiba-tiba melintas mendadak. Supir bus terkejut bukan main. Ia berusaha mengerem, namun, ia kehilangan keseimbangan, bus itu berbelok secara tiba-tiba, dan jatuh ke danau. Semua penumpang menjerit. Joe merasakan pipinya terbentur, dan mulutnya dipenuhi air.Bus itu sekarang mengapung di danau. Airnya sebatas pinggang Joe sekarang. Joe menjerit dalam hati. Kenapa sih untuk mengikuti audisi The Master saja berbagai rintangan harus dia hadapi? Dari mulai dirampok, ditusuk, kerusuhan, dan sekarang ini..

Joe berusaha tetap tenang. “Abu?” panggilnya pelan. Abu ternyata tidak pingsan. “Ya. Aku disini.” Kata Abu. “Rain?” panggilnya. “Ya , ya, aku hidup!” jawab Rain.
Joe merasa lega sekarang .Kemudian ia menoleh. Ia baru sadar ternyata penumpang bus itu kebanyakan anak-anak!
Anak-anak itu menangis ketakutan. Joe tak punya pilihan. Ia harus menyelamatkan mereka semua.
Joe melihat ke depan. Si supir, Rom, Sam,Darko tergeletak pingsan.
Anak-anak itu menangis sampai akhirnya Joe berdiri dan berkata, “Tenang, kita harus keluar dari sini!” kata Joe sambil berusaha menenangkan anak-anak itu. Anak-anak itu tetap menangis. “Dengarkan aku, dengarkan aku!” serunya. Namun anak-anak itu tetap menangis...
Abu kemudian bersusah payah berdiri. “Hentikan.” Katanya. Semua anak-anak kemudian diam. Dan menoleh kepadanya. “Kami tidak akan membiarkan apapun terjadi pada kalian!” kata Abu tegas. “Kami akan mengeluarkan kalian. Kalian tidak usah takut!” serunya.
“Joe, Rain, ayo.” Kata Abu. Joe mengangguk perlahan. Rain kemudian menyuruh anak-anak itu diam dan membagi mereka menjadi 2 barisan. Barisan pertama akan dikeluarkan oleh Joe, dan barisan kedua dikeluarkan oleh Rain.
Joe menggendong anak pertama. Anak itu menangis. “Tidak apa-apa,” bisik Joe menghibur anak itu. Joe kemudian membawa anak itu berenang ke tepi, diikuti Rain yang juga membawa anak lain. Rasanya jauh sekali ke tepi. Sedangkan bus makin miring, jika mereka terlalu lama maka semua akan tenggelam.
Joe dan Rain sampai ke tepi. Mereka menaruh anak-anak yang mereka bawa ke tepi. “Tunggu disini, jangan kemana-mana.” Kata Joe. Rain pun mengatakan hal serupa kepada anak yang digendongnya. Mereka kemudian berbalik ke bus yang semakin miring. Abu ikut membimbing mereka. Satu persatu anak-anak itu berhasil mereka bawa ke tepi.
“Sudah semua, ayo Abu!” kata Joe. Abu hendak melangkah keluar dari bus, tapi, tiba-tiba terdengar suara tangis seorang anak.
“Tunggu! Masih ada satu!” kata Abu sambil berusaha mencari-cari sumber suara itu. Namun tiba-tiba.. bus itu perlahan menggeser dan sudah miring sekali. Abu tentu saja tidak menyadari kalau bus itu sudah menggeser jauh.
“ABU!” teriak Joe yang masih di tepi. Tanpa pikir panjang ia langsung menyemplung kembali ke danau itu. Rain berteriak memanggilnya, kemudian ikut menyemplung ke danau.
Abu bersusah payah berenang dengan tidak lancar. Air sudah sebatas dada sekarang. Dengan panik ia mencari suara anak kecil yang masih menangis itu. Ia menemukannya. Anak laki-laki itu tampak menggigil kedinginan. “Tolong.. Kakiku terjepit.” Kata anak itu sambil meringis. “Tahan.” Kata Abu. Ia mengambil nafas dalam-dalam, kemudian menyelam. Ia mencoba mencari apa yang menjepit anak itu. Ternyata sebuah tiang yang jatuh.
Abu kemudian berusaha mengangkatnya. Berat sekali.
Di luar, Joe dan Rain masih berusaha menemukan Abu. Joe berkali-kali memunculkan kepalanya ke luar. “Abu, Abu!” panggilnya berulang-ulang.
Abu berusaha mengangkat besi itu ketiga kalinya. Bus semakin miring sekarang.. Sedikit lagi mereka akan tenggelam. Saat mencoba mengangkat untuk yang keempat kalinya, Abu akhirnya berhasil mengangkat besi itu. Si anak membuka jendela bus dan menangis tersedu-sedu.
Joe mendengar suara tangisan anak itu. Dengan cepat ia mengulurkan tangannya. “Ayo, Nak, tidak apa-apa,” kata Joe. Anak itu kemudian menyambut tangan Joe dan Joe menariknya keluar. Joe langsung menyerahkan anak itu kepada Rain. “Bawa dia ke tepi. Aku harus menolong Abu, dia masih di dalam,” kata Joe.
Rain menurut. Rain kemudian menggendong anak itu ke tepi.
“Abu?” seru Joe sambil berharap dengan cemas. Abu kemudian muncul. Joe berusaha mengeluarkannya. Joe mengulurkan tangannya. Abu berusaha menyambutnya. Tangan mereka sama-sama basah sehingga Abu kesulitan memegang tangan Joe.
“Ayo.. pegang tanganku!” kata Joe serak. Ia terus berusaha menarik sahabatnya itu keluar dari bus. Abu kemudian mencengkeram tangan Joe. Joe berusaha menarik Abu sekuat tenaga. Bus semakin miring....
Keesokan harinya...

Joe, Abu, Rain, dan Ibunya kembali berjualan di pinggir jalan. Seperti biasa, sepi pembeli. Rain mulai terlihat bosan dan patah semangat.
“Tunjukkan atraksi sulap kalian lagi dong,” kata Rain. Ibu Rain menoleh. “Sulap?” tanyanya heran.
“Ya, Ibu, mereka bisa melakukan sulap,” kata Rain semangat. Ibu Rain langsung tertarik.
Joe kemudian mengambil pensil dari barang dagang Rain. Ia kembali memelintir pensil itu dengan tisu, dan setelah dibuka, pensil itu secara ajaib berubah menjadi peniti.
Ibu Rain berbinar. “Keren,” katanya.
“Masih ada lagi,” kata Abu. “Lihat tangan saya kosong, Bu?” kata Abu sambil menunjukkan tangannya yang kosong. Ibu Rain mengangguk. Abu kemudian menyentuh bagian belakang telinga Ibu Rain.
Kemudian ia melepaskan tangannya, dan sekarang tangannya sudah memegang telur.
Ibu Rain bertepuk tangan. “Hebat! Hebat sekali Nak!” ujarnya kegirangan.
Orang-orang kembali merubung... Joe dan Abu kembali melaksanakan atraksi sulap dadakan.
Ketika masih asyik memeragakan trik-trik sulap, tiba-tiba terdengar suara kericuhan.
Joe menoleh. Darko, Rom, dan Sam. Mereka menghancurkan barang-barang pedagang, bahkan menginjak-injaknya. Pria paruh baya yang sudah berambut putih itu tidak terima barang-barangnya dihancurkan. Ia melawan trio Darko, Rom, dan Sam. Mereka kemudian adu teriak seru sekali. Joe tiba-tiba menyadari bahwa Darko juga membawa teman-teman satpol PP-nya.
“INI BARANG-BARANGKU! KENAPA KAU MENGHANCURKANNYA?” seru pria paruh baya itu.
Darko tertawa. “YA, TAPI KAU MELANGGAR ATURAN!” serunya sambil terus menendang barang dagangan pria itu. Istri dan anak pria itu menjerit dan terisak.
“AKU BARU DISINI! MANA AKU TAHU AKU MELANGGAR ATURAN? TIDAK BISAKAH KAU MEMBERITAHU SECARA BAIK-BAIK?” teriak pria paruh baya itu lagi.
Kini perhatian orang-orang sudah tidak kepada atraksi Joe dan Abu lagi, melainkan ke Darko dan pedagang yang beradu teriak seru sekali.
Pedagang-pedagang yang lain pun tidak terima. Mereka kemudian ikut beradu mulut... Berawal dari adu mulut itu, akhirnya keduanya menjadi bentrok, dan saling dorong. Berawal dari saling dorong, tiba-tiba saja melebar menjadi kerusuhan hebat. Entah karena emosi, Darko dan para satpol PP yang lain kemudian melemparkan tembakan membabi buta.
Orang-orang menjerit ketakutan. “LARI!” seru Rain, merapikan barang-barang dagangannya. Rain berlari secepat kilat. Suara tembakan membahana di belakang mereka. Darko dan para satpol PP itu juga menembakkan gas air mata. Segalanya menjadi kelabu secara tiba-tiba.
Joe merasa sangat panik, karena ia tidak bisa melihat dengan jelas. Mana Rain? Mana Ibu Rain?Mana Abu? Ia hanya mendengar lolongan ketakutan orang-orang, dan suara pecahan kaca.
Joe merunduk dengan sigap, menghindari tembakan-tembakan yang makin membabi buta. “Oh Tuhan...” gumamnya, melihat tiba-tiba ada banyak sekali mayat dan darah berserakan.
Dengan panik Joe berusaha mencari-cari ketiga sahabatnya.. Dimana mereka?? Dimana mereka?? Serunya dalam hati. Joe dengan sigap menghindari pecahan kaca yang terbang ke arahnya. Ya ampun, dasar manusia.. pikirnya.. Hal sepele akhirnya menjadi seperti ini..
Joe terus berlari sambil menoleh ke sana sini.. Dia hanya melihat anak-anak yang menjerit ketakutan, dan orang-orang yang berlarian, tapi ia tidak bisa melihat Abu, Rain, maupun Ibunya..

Suara PRANG kembali terdengar, dan pecahan kaca yang banyak sekali terbang mengenai telinga kirinya. “Ahhh.... “ jerit Joe tertahan sambil memegangi telinga kirinya.
Joe terus mencari-cari Abu, Rain, dan Ibu Rain.. Perutnya terasa sakit apalagi luka bekas tusuknya belum pulih betul...
Tiba-tiba Rain menabraknya. “Joe, ayo Joe!” seru Rain sambil menggandeng tangan Joe. Mereka berdua dengan putus asa berusaha mencari Abu dan Ibu Rain, mereka harus keluar dari kerusuhan itu...
Joe dan Rain terus-terusan lari sambil membungkuk menghindari tembakan dan pecahan kaca...
Dan, Joe melihat sesosok tubuh tertelungkup. Ia sangat mengenal tubuh itu, dengan ngeri ia mengajak Rain menghampiri tubuh yang tertelungkup itu. Abu belum meninggal, seru suara dalam kepalanya. Joe kemudian membalikkan tubuh yang tertelungkup tersebut. Ternyata bukan Abu..
Merasa lega namun juga cemas, Joe dan Rain terus berlari. Sepintas Joe melihat Darko, Rom, Sam, dan petugas satpol PP yang lain terus melancarkan serangan, muka mereka tanpa penyesalan sama sekali. Joe ingin sekali menghajar mereka, tapi keinginannya itu ia pendam. Yang penting ia harus menemukan Abu dan Ibu Rain dulu...
Joe terus memicingkan matanya.. Ia berusaha menguatkan diri melihat orang-orang mulai bertumbangan... Sampai akhirnya matanya menemukan dua sosok berjalan terpincang-pincang dan seorang perempuan..
“Rain, itu mereka!” seru Joe. “Ayoo!” Joe menarik tangan Rain dan mengejar kedua orang itu. Mereka berhasil mendekati kedua orang itu, ternyata benar itu adalah Abu dan Ibu Rain.
“Kita harus segera keluar dari sini...” kata Joe setengah berteriak, agar suaranya terdengar lebih keras dari teriakan orang-orang.
Mereka dibutakan oleh asap yang berasal entah dari mana. Joe memicingkan matanya, dan ia melihat sebuah celah. “Kesana!” perintah Joe kepada sahabat-sahabatnya.
Mereka berempat lari ke celah dari asap itu.. Dan tiba-tiba DOR!

Suara tembakkan itu begitu memekakkan telinga Joe. Ia menoleh perlahan. Oh... ternyata yang tertembak adalah Ibu Rain!
“Ibu!!” jerit Rain histeris. Rain langsung memapah Ibunya secara gelagapan. Ibu Rain mengeluarkan banyak sekali darah. Joe hanya bisa tertegun, ia tidak bisa membantu Rain memapah ibunya karena ia sendiri sudah repot memapah Abu.

Mereka akhirnya berhasil keluar dari kerusuhan itu.... Mereka sampai di sebuah taman yang sepi. Rain terlihat sangat panik dan kalut. Rumah sakit masih sangat jauh dari tempat mereka.
“Ibu... Bertahanlah, Ibu...” kata Rain dengan sedih. Ibu Rain tersenyum lemah.
“Ja-jadilah anak baik, Rain,” bisik Ibu Rain lemah dengan terbata-bata. Kemudian dengan pelan ia menengok kepada Abu dan Joe.
“Ka-kalian ja-jagalah Rain baik-baik.” Kata Ibu Rain lagi.
Air mata Rain mengalir. “Ibu, pasti Ibu bisa bertahan,” isaknya.
Ibu Rain tersenyum. “Aku harus pergi sekarang.” Bisiknya, kemudian ia menutup matanya, dan tidak bergerak kembali.
“IBU!!!!!TIDAK!” seru Rain terisak. Namun apa daya, ibunya kini telah tiada.
Joe dan Abu menunduk. Memandangi Rain dengan perasaan sangat iba. Rain terus menangisi ibunya.
Joe meletakkan tangannya di bahu Rain. “Rain, ia ibu yang hebat, biarkanlah ia pergi dengan tenang,” kata Joe berusaha menghibur Rain. Rain masih terisak.
“Darko.. Sam.. Rom... belum puaskah mereka menyiksaku??? Dulu Ayahku mereka bunuh sekarang Ibu!” jerit Rain.
“Rain, hapus air matamu,” bisik Abu. “Tidak ada lagi yang dapat kau lakukan. Kita bawa jenazah Ibumu.”
Rain terlihat memaksakan dirinya untuk tegar . “Ya sudah.... kita akan menguburkan Ibu di dekat makam Ayah.” Kata Rain.
Mereka kemudian membawa jenazah ibu Rain, menggali kuburan dengan sekop milik Rain seadanya, dan memakamkannya di dekat makam ayah Rain.
“Aku sendirian sekarang.” Kata Rain.
“Masih ada kami. Ayo pulang.” Kata Joe lelah.
Tiga sekawan itu kemudian berjalan dengan langkah gontai. Hari telah senja dan kerusuhan sudah usai. Sekarang ambulans wara-wiri untuk mengangkut jenazah yang telah menjadi korban kerusuhan tersebut.

“Apa kau masih tetap ingin berjualan, Rain?” tanya Joe hati-hati saat mereka sudah kembali ke rumah Rain.
“Tentu saja... bagaimana mungkin aku hidup jika tidak berjualan?” sahut Rain.
Mereka kemudian kembali membantu Rain berjualan, namun kali ini pindah lokasi. Seperti biasa, barang dagangan tidak laku, Joe dan Abu akhirnya melaksanakan atraksi sulap.
Ajaib, uang yang terkumpul begitu banyak. Mereka semua pulang dengan riang. Di rumah Rain mereka menghitung uang yang berhasil mereka kumpulkan.
“Banyak sekali,” kata Rain senang.
“Ya.. haha..” kata Joe. Mereka kemudian membagi 3 uang itu.
“Sepertinya cukup untuk ongkos pulang,” kata Joe gembira. Abu tiba-tiba menatapnya. “Loh?? Kita tidak jadi ke Mal Emporium nanti? Audisi The Master?” tanya Abu.
Sementara itu, di rumah Abu...

Pak Andre dan Bu Rita telah melapor kepada polisi. Bu Rita tak henti-hentinya terisak. “Bagaimana jika mereka dirampok? Bagaimana jika mereka tidak punya apapun? Bagaimana jika mereka tersesat dan tak tahu jalan?” kata Bu Rita sambil terisak di bahu Pak Andre.
Pak Andre bingung harus berkata apa selain menghibur istrinya. “Joe akan menjaga Abu, Mama tenang..” kata Pak Andre pelan.
“Tapi bahkan Abu tidak membawa ponsel ataupun jaketnya,” isak Ibu Rita lagi. Pak Andre bingung sekarang. Abu, Joe dimana kalian, Nak?? Batinnya sedih. Seharusnya aku mengizinkannya mengikuti audisi itu... Rasa bersalah menghantui Pak Andre.

Di Jakarta..

Setelah menunggu hampir setengah jam akhirnya Rain datang bersama 2 orang laki-laki. “Ini Indra dan ini Robert, teman lama,” kata Rain kepada Abu.
“Ya ampun darahnya banyak sekali,” kata Robert. “Kau bisa berdiri?” tanyanya. Joe mengangguk lemah. Indra dan Robert kemudian membantu Joe berdiri.
“Kenapa bisa begini, Rain?” tanya Indra.
“Trio Rom, Sam, dan Darko. Mereka memalak kami. Joe bilang ia tidak punya uang dan Sam menusuk Joe.” Jawab Rain.
Indra dan Robert menggelengkan kepalanya. “Mereka bertiga memang selalu menindas yang lemah. Darko.. satpol PP tapi kelakuannya betul-betul biadab.” Kata Indra.
“Kita harus membawanya ke puskesmas terdekat. Indra, kau tidak punya sapu tangan lagi? Satu itu tidak cukup,” kata Robert. Indra meraba-raba sakunya. Ia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya.
“Tahan, akan sakit sedikit.” Kata Indra. “Supaya darahnya tidak mengalir terus.”
Indra kemudian memencet luka Joe dengan sapu tangannya. Joe mengaduh dan meringis kesakitan.
Indra dan Robert memapah Joe. Rain dan Abu mengikutinya dari belakang.
Mereka melangkah dengan cepat sekali. Puskesmas itu memang agak jauh. Akhirnya mereka sampai.
“Dokter Limbad, tolong obati anak ini, dia terluka parah,” kata Robert sambil menunjuk Joe.
Seorang dokter berambut gimbal keluar dari ruang periksa. Ia menatap Joe dengan kaget.
“Ya ampun... kenapa bisa begini?” tanyanya. “Ayo, bawa ke ruang periksa.” Katanya lagi.
Indra dan Robert memapah Joe ke ruang periksa. Abu masih sangat takjub melihat dokter tadi.
“Dokter tapi penampilannya seperti itu? “ bisiknya heran.
Rain terkekeh. “Ya.. tapi dia dokter yang hebat,” jawabnya. Rain dan Abu kemudian ikut masuk ke ruang periksa.
“Berbaringlah,” kata Dr Limbad. Joe kemudian berbaring. Dr. Limbad kemudian memeriksa Joe, kemudian mengobati lukanya perlahan-lahan.
“Apakah lukanya serius, Dr Lim?” tanya Rain cemas.
Limbad menoleh. “Tidak kok. Untung saja tidak mengenai lambungnya.. Memangnya kenapa dia sampai bisa ditusuk begini?” tanya Dr Limbad lagi.
“Darko, Rom dan Sam. Mereka memalak kami semua.” Kata Rain. “Joe menolak memberikan uangnya. Sam menusuknya. “ jelasnya lagi.
Limbad menghela nafas. “Mereka bertiga itu.. Aku tidak mengerti mereka sebenarnya..Selalu saja membuat onar.. Selalu memalak yang lemah...” kata Dr Limbad sambil membersihkan luka Joe dengan kapas. Joe meringis.
Rain mengangkat bahu. “Entahlah Dr. Lim. Kau tahu nyaris setiap hari aku selalu dipalak oleh 3 orang itu,” katanya.
“Untung saja lukanya tidak dalam, kalau dalam, bisa mengenai lambung nya” kata Dr. Limbad lagi sambil memperban luka Joe. “Kapan mereka ber 3 berhenti membuat masalah?” kata Dr. Limbad lagi sambil mengencangkan perban Joe. “Selesai,” katanya.
Joe tersenyum. Ia kemudian duduk. “Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Dr. Limbad lagi.
“Sudah enakan Dokter, terima kasih,” kata Joe sambil meregangkan badannya.
“Tangan dia juga terluka, Dr. Lim,” kata Rain sambil menunjuk Abu.
“Luka? Yang ini juga dilukai ketiga preman itu?” tanya Dr. Limbad.
Abu menggeleng. “Tidak dokter. Saya melukainya sendiri. Saya berpura-pura bahwa saya penderita AIDS. Saya bilang kepada mereka bahwa darah saya beracun,” jelas Abu panjang lebar.
Indra, Robert, dan Dr. Limbad tertawa terbahak-bahak. “Pintar sekali idenya.. ternyata Darko juga pengecut, eh?” kata Dr. Limbad sambil memperban tangan Abu. Tidak sampai 10 menit Dr Limbad selesai mengobati Abu dan Joe.
“Berapa biayanya, Dokter Lim?” tanya Rain.
“50 ribu,” jawab Dr Limbad sambil tersenyum. Joe mengangkat alisnya. Rain kemudian mengeluarkan seluruh uang hasil yang mereka dapatkan tadi, dan menyerahkannya kepada Dokter Limbad.
“Indra, Robert, Dr. Lim, terima kasih banyak sudah membantu,” kata Rain.
“Sama-sama, Rain.” Jawab Indra.
“Cepat sembuh ya, berhati-hatilah jika Darko, Rom, dan Sam muncul lagi,” kata Robert sambil menepuk punggung Joe. Joe mengangguk.
“Ya, jangan terlalu banyak bergerak,” kata Dr. Limbad.
Mereka bertiga pun keluar dari rumah sakit itu.
“Maafkan aku Joe...” kata Rain. Joe menatapnya heran. “Maaf? Untuk apa minta maaf? Kau kan tidak punya salah apa-apa,” kata Joe terheran-heran.
“Aku menyerahkan semua uang kita... Kalian jadi tidak bisa pulang.” Kata Rain sambil menunduk.
Abu memotongnya. “Ya ampun Rain! Uang kan bisa kita cari lagi besok! Yang penting Joe diobati! Tenanglah, tidak usah merasa tidak enak begitu!” kata Abu santai.
Rain tersenyum. “Baiklah, sekarang kita pulang.”

Sesampainya di rumah Rain...

“Rain! Kenapa kau lama sekali Nak? Ibu khawatir sekali akan kondisimu!” kata Ibu Rain sambil mencium rambut putra kesayangannya itu. Ibu Rain kemudian menatap Joe yang perutnya diperban serta Abu yang tangannya diperban juga.
“Kalian kenapa?” tanyanya cemas.
Mereka semua duduk. Rain kemudian menceritakan semuanya kepada ibunya. Ibu Rain ternganga tidak percaya. “Jahat sekali mereka! Dan Darko... aku benar-benar membencinya! Kerjaannya hanya menyiksa dan memalak pedagang jalanan saja! Tapi kau tidak apa-apa kan, Nak Joe, Nak Abu?” tanyanya lagi dengan khawatir.
“Tidak usah khawatir, kami baik-baik saja,” kata Joe.
“Besok Ibu akan ikut kalian, kalian tidak boleh Cuma bertiga lagi,” kata Ibu Rain. “Sekarang makan dan tidurlah.”
Mereka makan dalam diam. Sesekali Joe melirik ke Abu. Sahabatnya itu tampak murung.
Rain dan Ibunya tidur terlebih dahulu. Abu melangkah keluar. Joe mengikutinya.
Abu menengadah menatap bintang-bintang di langit. “Sedang apa kau, Abu?” tanya Joe pelan.
Abu menoleh. “Kau lihat 2 bintang itu.... indah sekali.” Kata Abu sambil menunjuk ke langit. Joe menengadah. Di antara bintang-bintang yang berkilauan, memang tampak 2 bintang yang paling bersinar.
“Yang depan itu bintangmu dan yang depan itu bintangku.” Kata Abu. Joe tersenyum. Ia bingung harus mengatakan apa.
“Sedang apa ya Papa dan Mama? Mereka pasti senang aku menghilang. Aku banyak masalah.” Kata Abu. Joe terdiam, kemudian berkata. “Jangan berkata seperti itu, mereka selalu menyayangimu.”
Abu tertawa getir. “Kalau mereka menyayangiku, mereka pasti mendukungku untuk menjadi pesulap,” katanya.
“Orangtuamu hanya ingin yang terbaik bagimu,” kata Joe mencoba menghibur Abu.
Abu menggeleng. “Kau tahu, aku kadang-kadang merasa iri kepadamu. Kau bebas, kau cerdas, kau normal.” Kata Abu sambil menatap Joe. Joe menggelengkan kepalanya keras-keras. “Tidak , Abu. Kau jauh lebih beruntung dari aku! Kau punya orangtua yang menyayangimu, sedangkan aku hanya sendirian, aku hanya memiliki kau.” Kata Joe tegas.
“Sebaiknya kita tidur... sudah malam.. “ sambung Joe lagi.
Abu tersenyum dan duduk. “Terima kasih, Bu,” kata Abu.
“Ibu, apakah Ibu punya telepon?” tanya Abu tidak jelas, mulutnya penuh dengan roti sekarang.
“Ya Nak? Maaf aku tidak bisa mendengarmu dengan jelas,” kata Ibu Rain lembut.
Abu menelan potongan rotinya. “Apakah Ibu memiliki telepon? Bolehkah aku meminjamnya?” tanya Abu hati-hati.
“Oh, maaf sekali, sayangnya aku tidak punya,” kata Ibu Rain.
Joe angkat bicara. “Er... kalau begitu.. adakah wartel di dekat sini, Bu?” tanyanya.
Rain menggeleng. “Jauh sekali, Joe. Mungkin memakan waktu 2 jam untuk sampai ke sana.” Kata Rain.
“Oh,” kata Joe. “Baiklah.”
Rain kemudian mengemas barang-barangnya. “Kau mau kemana?” tanya Abu. Rain tersenyum. “Berjualan.” Sahutnya.
“Bolehkah kami ikut membantumu?” tanya Joe. Rain kemudian menatap ibunya dengan bimbang.
“Jika kalian mau, silahkan,” kata Ibu Rain lagi dengan ramah. “Tapi hati-hati!”
Mereka bertiga kemudian berjalan ke luar rumah. Joe membantu membawakan barang-barang dagangan Rain.
“Biasanya kau berjualan di mana?” tanya Abu.
“Di pinggir jalan,” jawab Rain.
Setitik rasa kasihan muncul di benak Joe. “Setiap hari kau berjualan seperti ini, Rain? Memangnya kau tidak sekolah?” tanya Joe.
Rain tertawa kecil. “Untuk makan saja susah, apalagi sekolah. Tidak, aku tidak sekolah, sekolahku putus sejak kelas 2 SD. Sejak ayahku meninggal, aku membantu Ibu. Berjualan makanan” Jawabnya.
Joe bertukar pandang dengan Abu. Joe menyadari, masih banyak orang yang ternyata kurang beruntung dari pada dirinya. Ia selama ini menganggap dirinya malang karena tak memiliki orangtua, padahal seluruh warisan orangtuanya jatuh kepadanya. Melihat Rain, Joe menyadari selama ini ia kurang bersyukur.
Rain kemudian menggelar barang dagangannya. “Nanti hasilnya kita bagi 3, siapa tahu cukup untuk ongkos kalian pulang.” Kata Rain. Joe mengangguk. Sungguh anak baik, pikirnya.
Mereka menunggu dan menunggu. 5 menit, 10 menit, 20 menit, 1 jam, 2 jam... tetap tidak ada pembeli. Sinar matahari yang begitu panas membakar tengkuk Joe. Sambil bersandar di tiang Joe dan Abu menguap. Joe benar-benar heran. Kok bisa anak ini tidak jenuh melakukan aktivitas seperti ini sehari-hari? Pikirnya.
Dengan iseng Joe kemudian mengambil sapu tangan Abu. Ia kemudian memelintir sapu tangan itu sampai berubah menjadi api dan apinya kembali menghilang. Rain yang sedari tadi melamun memandangnya dengan takjub.
“Wow! Kau bisa sihir?” tanya Rain takjub.
Abu tertawa. “Itu bukan sihir, itu sulap,” jelasnya dengan geli. Joe tersenyum malu.
“Wow! Hebat! Kau bisa yang lainnya lagi?” tanya Rain dengan mata yang berbinar-binar.
“Kau punya benda atau sesuatu?” tanya Joe. “Cuma ini,” kata Rain, kemudian mengambil pulpen panjang kecil dari sakunya. Joe menerima pulpen itu.
“Kau punya tisu?” tanya Joe lagi. Rain mengeluarkan tisu dari kantong celananya.
“Lihat ini,” kata Joe. Ia membungkus pulpen itu dengan tisu... kemudian setelah dibuka,pulpen itu telah terpelintir.
Rain memandangnya tak percaya. “Hebat, hebat! Dari mana kau belajar seperti itu?” tanyanya.
“Ya dengan latihan saja. Semua orang pun bisa, asalkan rajin latihan,” kata Joe sambil mengedipkan mata. Rain masih terlihat takjub. “Kau bisa sulap juga?” tanyanya kepada Abu.
“Bisa.” Jawab Abu. Ia mengambil pulpen Joe yang telah terpelintir, kemudian membungkusnya kembali dengan tisunya. Setelah dibuka, pulpen itu telah menghilang.
Rain bertepuk tangan. “Hebat! Aku tidak pernah melihat yang seperti itu!” katanya girang.
Orang-orang yang sedari tadi berlalu lalang tanpa memperhatikan ketiga pemuda itu sekarang merubung. Secara tiba-tiba Joe dan Abu melakukan atraksi sulap dadakan.
Joe dan Abu memperagakan trik-trik sulap sederhana. Orang-orang pun dibuat takjub oleh mereka. Kemudian tanpa diminta, orang-orang itu memberikan uang kepada mereka.
Setelah selesai melakukan atraksi, mereka bertiga hendak menghitung uang, namun sebuah mobil hitam muncul.
“Oh,” bisik Rain. “Satpol PP! Darko!” katanya panik.
Joe dan Abu menoleh. “Darko? Satpol PP?” tanya mereka tidak mengerti.
Seorang petugas satpol PP berpakaian seragam serba hitam turun dari mobil. “Itu, itu Darko, satpol PP paling bengis!” kata Rain. “Ayo!”
Secara terburu-buru Rain merapikan barang dagangannya. Mereka kemudian berlari. Joe yang masih penasaran, menoleh ke belakang. Satpol PP yang bernama Darko itu tampak menghancurkan dan mengacak-ngacak barang dagangan pedagang lain. Terdengar isak tangis si pedagang dari kejauhan.
“Jahat sekali orang itu!” kata Joe. Ia ingin sekali menghampiri Darko, petugas satpol PP itu. Namun Rain menahannya dan menggelengkan kepala. “Jangan! Jangan melawannya! Dia punya pentungan yang bisa membuatmu menjadi gegar otak!” kata Rain memperingatkan.
Joe mengangkat sebelah alisnya. “Menurutku tanpa dipentung pun, Joe sudah gegar otak. Otakmu miring kan Joe, saking cerdasnya,” gumam Abu. Joe terbahak.
Rain nyengir. “Ayo kita pulang.”
Mereka bertiga berjalan dalam diam ketika tiba-tiba 2 orang pemuda berpakaian preman menghadang mereka.

Part 4

“Well, well. Bertemu lagi dengan si kecil yang tampan ini,” kata preman yang cukup jangkung. Rain menelan ludah. “Mau apa lagi kau Sam?” tantangnya.
Preman yang bernama Sam melipat tangannya. “Rain..rain... Kau tetap telmi seperti dulu. Tentu kami ingin uangmu.” Katanya lagi.
Rain menggeleng. “Tapi, aku tidak punya uang! Barang daganganku sama sekali tidak laku!” katanya. Suaranya serak sekarang.
Preman yang bernama Rom tertawa bengis. “Jangan coba membohongi kami, Rainie kecil,” kekehnya. Ketakutan mulai melanda mereka bertiga.
Seseorang kemudian muncul. Ternyata Darko, si satpol PP yang tadi.
“Wah kita kedatangan tamu,” kata Darko. Ketiganya nyengir sekarang.
“Lihat, Darko. Anak ini membawa bodyguard,” kata Sam sambil menunjuk ke arah Joe dan Abu yang masih terpaku di tempat mereka.
“Jangan ganggu mereka! Mereka temanku!” pinta Rain memelas.
Darko menghampiri Joe. Darko mengendus Joe. “Sepertinya dia anak orang kaya. Rom, Sam, pegang dia.” Rom dan Sam kemudian memegangi Joe.
“Jangan!” seru Abu dan Rain barengan. Joe meronta berusaha melepaskan diri.
“Berapa uang yang kau punya?” tanya Rom. Joe menggertakkan giginya. “5 ribu!” serunya. “Ah, bohong,” kata Sam. “Kau pasti punya lebih dari itu.” Sambungnya lagi sambil mencengkeram rambut Joe.
“Sudah kubilang aku hanya punya 5 ribu!” seru Joe dengan suara tertahan. Matanya menyipit kesakitan akibat dicengkeram rambutnya oleh Sam.
“Rom, Darko, pegang kedua orang itu,” kata Sam sambil menunjuk Abu dan Rain yang bersiap lari.
Rom dan Darko langsung memegangi Abu dan Rain. Kruk Abu terjatuh.
“Kau tahu apa ini?” tanya Sam sambil menyeringai menyeramkan. Ia mengacungkan pisau yang berkilat. Mata Joe terbelalak ngeri.
“Berani sumpah aku hanya punya 5 ribu!” seru Joe, keringat dingin mulai menetes di wajahnya.
“Dasar pembohong!” seru Sam, kemudian BUK! Sam menusukkan pisau yang dipegangnya ke perut Joe. Darah perlahan-lahan mengucur dari perut Joe. Joe jatuh berlutut. Matanya sekarang berair karena menahan sakit.
“JOE! JOE! BERTAHANLAH!” seru Abu yang masih meronta berusaha melepaskan pegangan Darko yang begitu kencang.
Sam tersenyum jahat. Dengan puas ia menatap Joe yang masih merintih kesakitan.
“Lari, Abu, lari Rain...” kata Joe lemah. Sam tertawa.
Abu yang tidak terima sahabatnya dilukai, langsung memukul Darko dengan kruknya. Darko yang kaget mengaduh kesakitan. Rain mengikutinya. Ia kemudian meninju tulang kering Rom dan berhasil melepaskan diri.
Tanpa pikir panjang, Abu menendang tangan Sam. Pisau pun jatuh dari tangan Sam.
Abu langsung mengambil pisau itu. Perlahan-lahan ia mengiris tangannya dengan pisau itu hingga tangannya berdarah.
“Abu... apa yang kau lakukan?” tanya Rain ngeri.
Abu menunjukkan telapak tangannya yang berdarah kepada 3 orang preman itu. “Kau tahu, aku ini penderita AIDS.” Kata Abu. Darko, Rom, dan Sam melangkah mundur. “Darahku beracun.” Katanya lagi sambil menunjukkan telapak tangannya.
“Kalau kalian menyentuh darahku, kalian akan menjadi penderita AIDS juga.” Kata Abu lagi.
Darko, Rom, dan Sam memandangnya ngeri. “Orang itu penderita AIDS, larii!!” seru mereka bertiga, takut akan darah yang ditunjukkan oleh Abu. Mereka pun lari lintang pukang dan menghilang dari peredaran.
Abu tersenyum penuh kemenangan. Rain terkekeh. “Kau cerdik.” Katanya.
Mereka langsung menghampiri Joe yang masih berlutut. “Joe.. Ya Tuhan Joe.. Bertahanlah sobat..” kata Abu cemas.
“Cari bantuan, cari bantuan...” kata Joe tertahan. Darah mengalir banyak sekali dari perutnya.
Rain memberikan sapu tangannya. “Hentikan pendarahannya dengan ini dulu,” katanya. “Aku akan mencari bantuan, kalian tunggu disini.” Kata Rain, kemudian ia berlari.
Abu membalut luka Joe dengan sapu tangannya. Dengan cemas ia memeriksa kondisi sahabatnya itu.
“Kau cerdik.” Kata Joe dengan suara yang masih tertahan. “Benar-benar cerdik.”
Abu tersenyum kecil. “Mereka ternyata penakut.” Katanya.
“Abu,maafkan aku telah membuatmu terdampar di sini,” kata Joe masih dengan suara tertahan. “Tak ada yang perlu dimaafkan,” kata Abu tegas. “Kau sahabatku. Bertahanlah, kawan...” kata Abu cemas. Sapu tangan putih Rain sudah berubah menjadi merah sekarang.
Kemana Rain?? Kenapa dia lama sekali?? Abu makin merasa panik karena darah yang dikeluarkan Joe semakin banyak.